Cara Instal Metatrader Forex Di PC Windows

Ini Dia Cara Instal Metatrader Forex Di PC Windows . Untuk menginstall software metatrader pada system operasi Windows silahkan ikuti langkah-langkah berikut :

Download installer metatrader.

Klik disini untuk mendownload software metatrader. Kemudian jalankan file installernya. Klik Run

Pilih bahasa yang akan digunakan. Klik Next
Cara Instal Metatrader Forex Di PC Windows
Selanjutnya klik Next

Setelah membaca persetujuan dan beri tanda cheklist pada checkbox di jendela berikut klik Next

Selanjutnya anda akan diminta untuk menentukan lokasi directory tempat dimana anda akan menginstall metatrader. Seperti terlihat, “Program Files\MetaTrader4? adalah directory default, sangat direkomendasikan gunakan saja setting default

Sekarang anda akan diminta untuk memilih group program yang akan ditampilkan pada start menu. Selanjutnya klik Next untuk menginstall MetaTrader di komputer anda.

Installasi dalam proses, silahkan tunggu sampai selesai

Setelah proses installasi selesai anda bisa menjalankan aplikasi metatrader dengan memberi cheklist “Launch MetaTrader 4? box dan klik tombol Finish.

Installasi software metatrader selesai dan software siap untuk digunakan

sumber Cara Instal Metatrader Forex Di PC Windows : http://suksestradingfx.blogspot.com/2010/02/cara-install-meta-trader-4.html

Bola Lover
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • TwitThis

Rahasia Sukses Bakat Saja Tidak Cukup Buktikan disini

Rahasia Sukses Bakat Saja Tidak Cukup Buktikan disiniRahasia Sukses Bakat Saja Tidak Cukup Buktikan disini

"Seorang berbakat tidak dapat sukses, jika ia tidak bekerja keras untuk mencapainya."

Kutipan di atas adalah jawaban seorang Stephen King – novelis bestseller yang karyanya banyak difilmkan, ketika ditanya soal rahasia kesuksesannya. Jawaban-jawaban serupa banyak ditemukan oleh tokoh-tokoh lain, mulai  Donald Trump, Walt Disney sampai Albert Einstein. Semua mengatakan hal yang sama : Bakat penting, tapi yang terpenting adalah attitude baik dan sikap pantang menyerah.

Banyak anggapan bahwa individu berbakat seolah ditakdirkan untuk menjadi yang sukses, atau minimal tumbuh dengan prestasi yang mengagumkan/ di atas standar. Kenyataannya tidak. Banyak orang dengan bakat dan kemampuan baik, tapi tidak berprestasi. Sedangkan kebalikannya, banyak pribadi yang terlahir biasa-biasa saja namun berkembang menjadi individu yang luar biasa, melebihi rekan-rekannya yang natural-born talented.

Nyatanya, seorang berbakat besar tapi tidak mengambil tindakan yang diperlukan adalah sama seperti berlian yang disimpan di bawah kasur. Cahayanya akan redup, dan makin lama tersamar oleh debu. Seseorang berbakat tapi tidak fokus dan berusaha keras untuk improve, tentu tidak akan mencapai kesempurnaan dalam karya-nya. Bakat tersebut harus terus menerus dimanfaatkan, seperti mata pisau yang harus kontinu diasah, supaya bisa menjadi senjata memasak hidangan oleh koki yang handal.


Pertama. Tumbuhkanlah kesadaran akan bakat yang anda miliki.

Tiap orang diciptakan unik. Tidak ada satupun individu yang sama persis. Karena itu, berhentilah berusaha meniru senior anda atau tokoh-tokoh panutan anda. Menilik perjalanan orang lain perlu untuk pembelajaran, namun yang terpenting adalah menemukan identitas anda sendiri.

Jalan seorang Bill Gates belum tentu sama dengan jalan anda. Sekeras apapun anda berusaha, jika hanya mengkopi step-step sukses seseorang tanpa menganalisa potensi diri sendiri, itu tidak akan berhasil.

Tidak ada manusia yang lebih sempurna dari yang lain. Seseorang boleh jadi hebat dalam bidang tertentu tapi pasti punya kelemahan di bidang yang lain. Sebaliknya jika kita lemah dalam bidang tertentu pasti juga punya kekuatan di bidang yang lain.

Banyak orang gagal bukan karena tidak memiliki bakat dan kemampuan, tapi lebih sering karena tidak percaya atau tidak yakin bahwa dirinya punya talenta tersebut.


Kedua. Asahlah bakat anda secara kontinu.

Seorang atlit renang akan berlatih berjam-jam tiap hari, selama berbulan-bulan, meskipun pertandingannya hanya berlangsung dalam hitungan detik.

Tidak ada hal yang instant dalam kesuksesan. Ujilah diri anda terus-menerus. Tekunlah mengasah kemampuan anda. Dengan demikian anda akan mempertajam bakat dan menguji kedisiplinan diri.


Ketiga. Jangan mudah menyerah.

Kejenuhan pasti ada, demikian pula dengan kritik. Hadapi semua dengan kepala dingin. Hindari emosi. Ingatlah anda sedang dalam proses mengasah kemampuan, dan hebatnya lagi... Kantor anda membayar anda untuk belajar. Dan ingatlah, proses pembelajaran itu kontinu, tidak pernah instant.


Keempat. Jadilah manusia berkarakter.

Banyak kisah individu berbakat (dan sukses) yang jatuh karena sikap kurang baik.  Ingat, tanpa memiliki karakter yang baik dan kuat seseorang tidak akan bisa bertahan untuk masa yang panjang. Bisa jadi dia sukses hari ini dengan bakatnya tapi akan segera redup karena kelemahan karakternya.

Sering juga ditemui individu berbakat, tapi tidak diterima di berbagai bidang pekerjaan karena sikap yang terlalu "nyentrik" dan tidak kooperatif. Mereka sulit diterima secara sosial, dan sebagian besar hanya berkutat di belakang meja, karena kurang luwes bersikap.

Setiap diri kita pasti memiliki bakat spesifik, yang berbeda dari yang lain. Temukanlah bakat anda dan miliki keyakinan akan talenta yang Anda miliki.

Sikap dan tindakan tepat dibutuhkan untuk mengarahkan pribadi anda ke gerbang kesuksesan. Maksimalkan bakat Anda, berbagilah dengan orang lain sekaligus ambil manfaat yang banyak dari orang di sekitar Anda.

sumber Rahasia Sukses Bakat Saja Tidak Cukup Buktikan disini: http://www.bebaspegal.com

Bola Lover
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • TwitThis

Fakta Asal Usul Nama Indonesia Nusantara Terbongkar

Fakta Asal Usul Nama Indonesia Nusantara Terbongkar .  zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Fakta Asal Usul Nama Indonesia Nusantara Terbongkar
Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "Jawa" oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. "Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)" kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.

Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah "Hindia". Semenanjung Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang". Sedangkan tanah air kita memperoleh nama "Kepulauan Hindia" (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau "Hindia Timur" (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais).

Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi rupanya nama Insulinde ini kurang populer. Bagi orang Bandung, Insulinde mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata "India". Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, "Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa" (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu "nusa di antara dua benua dan dua samudra", sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865),
Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: ... the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah "Indian Archipelago" terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.

Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.

Makna Politis

Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan!

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, "Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."

Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama "Indonesia" diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.

Maka kehendak Allah SWT pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda" untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, lahirlah Republik Indonesia.

Hidup Indonesia .........

sumber Artikel Fakta Asal Usul Nama Indonesia Nusantara Terbongkar ini diAmbil Dari => http://haxims.blogspot.com/2009/10/asal-usul-nama-indonesia.htmlPADA

Bola Lover
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • TwitThis